Selain Valentijn, van der Crab dan Leonard J Andaya, tulisan-tulisan ke-Maluku-an yang menarik barangkali adalah manuskrip Paramita S Abdurachman, A.B Lapian dan R.Z Leirissa. Setelah itu, generasi berikutnya tidak banyak membuat arus sejarah lebih menarik selain pengulangan demi pengulangan yang sama. Akademisi di kampus yang dianggap "sejarahwan" pun tak berbuat banyak, tak membuat karya yang menarik. Mereka lebih suka mengkritisi karya orang lain, membicarakannya serupa gosip, ketimbang fokus menulis sesuatu yang lebih serius yang seharusnya citra "sejarawan" menyadarkan mereka untuk membuat karya bukan gosip, ngerumpi! Sayangnya, jalan yang mereka tempuh bukan berkarya. Barangkali, sudah saatnya dunia bergosip di akademik tak lagi hadir sebagai respon "ngehek" atas karya orang lain. Tapi lebih fokus mengurusi "pagar" karya kita sendiri. Bila diibaratkan rumah, masing-masing dari kita punya kesempatan untuk membangun rumah impian dan tak mest...