Langsung ke konten utama

4 PELAJARAN MEREDAM KEGALAUAN DARI TOKOH NASIONAL: TJIPTO MANGUNKUSUMO, DI BANDA (1928) -

Hidup dalam keterasingan itu berat, kamu nggak akan kuat. Biar yang kuat saja yang menjalaninya. Begitupun Tokoh Nasional kita, Tjipto Mangunkusumo. Jauh dari Jawa, politik dan diasingkan di Banda, nyatanya harus dilakoninya dengan welas asih dan mengakali segala peristiwa diasingkan itu jadi bahan meredam kegalauan. Kamu yang masih suka berbagi galau di sosmed atau ditinggal pacar sebab putus di tengah jalan nggak akan kuat diasingkan dan dimata-matai antek intelejen (Lah, wong dimata-matai mantan aja kamu udah baperan, kok) Berikut akan saya cerita sedikit, tentang apa yang dilakukan Om Tjip (Panggilang Des Alwi ke Tjipto Mangunkusumo) untuk membunuh waktu tiap harinya di Banda:

1. MENYATU DENGAN ALAM.
Kala itu, 19 Desember 1927, dengan tuduhan melawan pemerintah Hindia Belanda, oleh Dewan Hindia (Read Van Nederlandsch Indie) Om Tjip harus diasingkan ke daerah yang tak bisa berbahasa Jawa. Maka ia pun sampai ke Banda pada 1928. Di Banda dalam buku Des Alwi Bersama Hatta, Sjahrir, dr. Tjipto Dan Iwan K Sumantri (terbitan: Dian Rakyat, 2002), Des menulis: "Setiap sore, Om Tjip duduk di depan rumah kolonial yang besar itu. Memandang ke laut lepas. Dari jauh terlihat pulau Banda Besar yang terletak di teluk Banda yang biru dan dalam itu" Yups, Om Tjip menyatu dengan alam. Memandang laut lepas, membiarkan alam, ruang dan waktu bersekutu. Sedangkan kamu, masih doyan mengingat mantan? :) Menyatulah dengan alam, jalan-jalanlah dan lihatlah alam disekitarmu, siapa tahu dengan begitu luka di hatimu bisa sedikit terobati.

 2. MEMBACA.
Selain melihat alam dan waktu besekutu tiap sorenya, om Tjip juga punya cara lain untuk membunuh waktu di Banda: "... Ia banyak membaca dan memesan banyak buku-buku" Kata Des Alwi, masih di dalam bukunya itu. Kamu masih buka-bukaan Whatsapp lihat chat-chat yang dulu-dulu dari mantan? menyedihkan sekali. Dunia itu luas, tak hanya selebar kenangan di Whatsapp, bacalah buku (Novel/Cerpen) dan temukan dirimu di dalamnya.

 3. MENGETIK DAN MENDENGAR MUSIK.
Apalagi yang dilakukan seorang yang diasingkan oleh pemerintah Hindia Belanda selain bisa melihat alam dan larut dalam dunia membaca? Maka di Banda om Tjip punya banyak waktu untuk menulis dan mendengarkan musik. "Pada suatu hari, ia membeli sebuah mesin ketik dan itu membuatnya merasa bahagia... ia juga menyukai musik bermutu" Nah, ini kamu banget nih. Cobalah dari sekarang belajar mengetik dan buatlah tulisan menarik, siapa tahu kisah hancur leburmu itu bisa jadi pintu menjadi penulis :D juga penikmat musik, biar hidupmu nggak terusik mengenang kisah mantan di masa lalu :D

4. BERKAWAN.
Secara umum, Om Tjip itu suka berkawan. membangun keakraban dengan banyak orang dan berbagi kehangatan. Ia (Om Tjip- read) dalam catatan sejarah pernah bergabung dengan SI (Serikat Islam), dan mendeklarasikan Indische Partji (IP) bersama sahabatnya yang lain semisal Douwes Deker dan Ki Hadjar Dewnatara, sebelum nanti ia diasingkan ke Belanda, dan akhirnya diasingkan di Banda. "Secara berangsur kesehatannya semakin menurun (Om Tjop- read), namun kelak setelah om Hatta dan om Sjahrir dibuang ke Banda pada 1935, kesehatannya membaik secara tiba-tiba. Dengan mereka berdua ia bisa berbagi pikiran tentang masa depan Indonesia" Kata Des Alwi.

Dan sebab ini yang terakhir dari 4 Pelajaran Meredam Kegalauan Dari Tokoh Nasional Kita: Tjipto Mangunkusumo, di Banda (1928). Saya sarankan ke kamu: carilah sahabat, bangunlah komunikasi yang baik dan sehat dengan teman-temanmu sekarang. Berbagilah kegalauanmu dengan sahabatmu atau orang yang kau anggap tepat, tak ada cara yang lebih bijak selain berbicara dan berkawan, mungkin dengan begitu kamu kelak menemukan solusi kemerdekaan dirimu dan menemukan seseorang yang tepat di masa depan :) sama seperti om Tjip yang berbagi pemikiran tentang masa depan Indoensia dengan Hatta dan Sjahrir di Banda []

 *Tulisan ini pernah terbit di blog: medium/Jama'ah galau (2018)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PEREMPUAN BUGIS DAN SEPIRING NASI KUNING-

Di kepala saya, saat menyebutkan nasi kuning, entah mengapa yang tergambar dibenak saya adalah seorang perempuan bugis dengan tangan halus menanak nasi. Entah mengapa pula, wajah seorang perempuan Bugis begitu melekat dibenak saya bila menyebut nasi kuning. Tampaknya, imaji perempuan yang halus wajahnya, yang putih kulitnya, yang merah merekah bibirnya dan hitam rambutnya-diikat ke belakang telah melekat dibenak saya. Semenjak kecil, hanya nasi kuning perempuan Bugislah yang seolah melekat seperti halnya prangko yang menempel di selembar surat. Saat membuat nasi kuning, mereka seolah memiliki resep rahasia. Di balik lembut tangan halus perempuan Bugis, terdapat rahasia masakan. Bila orang Padang membanggakan Barandang Bundonyo, dan menjadi tumpuhan kerinduaan dan kenangan bila di rantau. Maka, yang di kenang dari perempuan Bugis adalah sepiring nasi kuning. Tak begitu jelas, apakah yang memperkenalkan nasi yang berwarna kuning ke Maluku merupakan perempuan-perempuan Bugis, ataukah buka...

PULANG RANTAU DAN PERTANYAAN YANG SUDAH TIDAK RELEVAN LAGI DITANYAKAN DI ZAMAN SEKARANG -

Bila kamu pulang kampung lalu ada orang tanya ke kamu, "sudah nikah, blm?", "Kerja di mana?", "Punya rumah berapa?" "Anak sudah berapa?" Percayalah, bahwa orang yang bertanya semestinya tinggal dikisaran tahun 1980-an. Dan abadi di sana. Pertanyaan untuk orang merantau sekarang bukan itu, tapi "apa cerita perjalanan mu di rantau?", "Kuliner di sana gimana?", "Kalo dilihat-lihat potensi pekerjaan apa yang rasanya bagus dikembangkan di sana?", "Kehidupan sosial di sana menurutmu gimana?" Itu jauh lebih menyenangkan untuk didengarkan ketimbang cerita soal punya apa di daerah rantau dan pulang pura-pura jadi orang kaya dadakan, jadi senter clas, padahal hidup di rantau belum tentu bahagia, belum tentu juga mudah, ada tuntutan hidup dan gaya hidup yang seringkali terabaikan untuk kita cermati 😁😁 Kita semestinya sudah menanggalkan pertanyaan Materialisme, tentang punya apa, ke pengalaman sosial (social experien...

BUKA PUASA TERBAIK

Setelah mendengar kisah seorang teman, yang menceritakan bagaimana dia kehilangan orangtua. Entah mengapa, beta memutuskan untuk tidak ikutan bukber di manapun selain di rumah sendiri bersama keluarga. Beta tahu, ada banyak orang di luar sana yang kepengen buka puasa bersama sanak keluarga mereka---ada gema tawa di meja makan, ada obrolan yang hangat tercipta dan masih ada kedua orangtua di sana. Beta tahu, semua itu mahal harganya, Atau barangkali sangat mahal---di saat banyak orang di luar sana mulai kehilangan personil mereka satu persatu di meja makan. Beta juga sadar bahwa makan di meja makan di keluarga kelas menengah adalah  moments langka, karena seringkali meja makan jarang difungsikan untuk makan bersama keluarga. Dan satu-satunya moments makan dan duduk bersama di meja makan adalah saat bulan spesial semacam puasa ini. Bagi Beta, ini puasa terbaik. Beta sama sekali gak kehilangan satupun makan bersama untuk buka puasa di meja makan di rumah. Dan kalo seandainya ini puasa...