Langsung ke konten utama

Foto



Kalau kalian melihat foto kanak-kanak Kim Jong Un, Donald Trump atau tokoh-tokoh sumbu pendek lainnya di dunia ini, kalian tak akan pernah menyangka bahwa anak-anak dalam foto tersebut kemudian tumbuh jadi manusia-manusia paling menyebalkan. Kita suka ketipu dengan wajah polos mereka dalam lembar foto-foto, saat masih kanak-kanak. Dan saat mereka dewasa, punya kekuasaan dan semisalnya, mereka kemudian menjadi monster yang tak segan-segan membunuh orang lain tanpa iba sedikitpun. Pertanyaan kita balik, mengapa manusia bisa menjadi monster saat mereka dewasa?

Dalam skala yang lebih kecil, misalnya keluarga. Bapak yang keras dan bersumbu pendek akan jadi tokoh monster bagi benak anak-anaknya. Tokoh monster ini, kemudian mengalami pergulatan hidup yang biasanya saat mereka menua, tiba-tiba jadi semacam ahli sufi, sosok selamat dari mulut buaya dan menjalani kisah hidup dengan lues, seolah-olah demikian. Namun, pada prakteknya, entah, Donald Trump, Kim Jong Un atau tokoh sentral dalam skala yang lebih kecil, memiliki pola yang sama. Mereka tak pernah bisa ngomong dengan lebih terbuka dan menerima hal-hal baik dengan orang lain dalam cakupan skala mereka. Misal, Donald Trump gala akan pernah dengar omongan negara-negara lain, sebab dia menganggap mereka negara kecil dan Trump adalah representasi dari kekuasaan yang lebih besar dari negara-negara itu. Kim Jong Un gak akan pernah mau diajak ngobrol lebih waras dengan pemimpin di negara tetangganya, Korea Selatan, sebab menganggap dirinya lebih kuat, jumawa dan lebih besar yang diciptakan di muka bumi. Dalam skup keluarga pun demikian, seorang bapak bersumbu pendek, berotak sempit, bermental tempramental, gak akan mungkin bisa ngobrol dengan waras dan baik dengan anak-anak, sebab bagi dia, yang kuasa adalah dia. 

Dari sini, kita sadari bahwa satu garis lurus yang sama, entah Kim Jong Un, Donald Trump ataupun tokoh dalam lingkungan kita, entah pertemanan, keluarga atau tempat kerja kita memiliki kemiripan yang serupa: Mereka bisa bermulut-mulut dengan orang lain. Bisa bersenda tawa dengan orang lain, bisa berbagi gelak tawa dengan orang lain di luar diri mereka. Namun, saat di hadapan mereka adalah orang-orang yang paling intim, mereka tak bisa berkomunikasi dengan baik, lancar dan waras. Imbas dari ketidak berdayaan mereka berkomunikasi adalah makian, hujatan, ancaman dan sumpah serapah yang tak punya ujung pangkal. Mereka hidup di lingkungan kita, mereka nyata dan berkeliaran di mana-mana. 

Sekali lagi, bila kalian melihat foto-foto di masa kanak-kanak, orang-orang yang memilih jalan keji, kalian tak akan pernah menyangka bila anak-anak yang polos, yang senyumnya sumringah, kelak adalah monster bagi keluarga, teman, bos atau barangkali bagi negara -

Komentar