Langsung ke konten utama

JUM'ATAN


Biasanya orang dulu sering jadikan malam Jum'at itu malam yang agak religius. Ngaji agak lama selepas sholat Isya atau putar pengajian via mp3. Setidaknya, itu yang biasa dilakukan di beta rumah. Tapi semalam, atau lebih tepatnya sudah dua malam ini, entah suara konser musik itu dari mana, tiba-tiba yang Beta dengar saat lagi baca bukunya Panji Pragiwaksono di beranda belakang rumah adalah dengar orang lagi karaoke lagu dangdut dengan volume suara konser yang agak kencang. Tentu yang salah bukan lagu dangdutnya, melainkan si opnum yang entah dari belantara hutan mana tengah malam putar lagu dangdut. Beta menyudahi membaca dan masuk ke dalam rumah, ke dalam kamar. Beta kemudian berkesimpulan bahwa, masih ada di dunia ini, orang-orang yang mengadakan konser musik malam-malam cuma buat putar lagu dangdut dan suaranya jelek banget, sumpah. Dangdutnya gak salah, opnumnya gak salah, suaranya yang salah! Semua orang, semua rumah dan orang dalam rumah punya budayanya masing-masing, punya tabiatnya masing-masing, dan tabiat orang yang putar lagu dangdut dan konser itu suaranya jelek. Beta dapat tiga hal buruk.

1) Kehilangan imaji Beta soal malam Jum'at yang religius dengan orang entah dari belantara hutan mana putar lagu dangdut
2) Beta kehilangan mood membaca bukunya mas Panji
3) sumpah, suara saat lagi konser via karokean itu jelek banget, dan sampah banget. 
Selamat hari Jum'at, semoga tetap waras


Komentar

Postingan populer dari blog ini

PEREMPUAN BUGIS DAN SEPIRING NASI KUNING-

Di kepala saya, saat menyebutkan nasi kuning, entah mengapa yang tergambar dibenak saya adalah seorang perempuan bugis dengan tangan halus menanak nasi. Entah mengapa pula, wajah seorang perempuan Bugis begitu melekat dibenak saya bila menyebut nasi kuning. Tampaknya, imaji perempuan yang halus wajahnya, yang putih kulitnya, yang merah merekah bibirnya dan hitam rambutnya-diikat ke belakang telah melekat dibenak saya. Semenjak kecil, hanya nasi kuning perempuan Bugislah yang seolah melekat seperti halnya prangko yang menempel di selembar surat. Saat membuat nasi kuning, mereka seolah memiliki resep rahasia. Di balik lembut tangan halus perempuan Bugis, terdapat rahasia masakan. Bila orang Padang membanggakan Barandang Bundonyo, dan menjadi tumpuhan kerinduaan dan kenangan bila di rantau. Maka, yang di kenang dari perempuan Bugis adalah sepiring nasi kuning. Tak begitu jelas, apakah yang memperkenalkan nasi yang berwarna kuning ke Maluku merupakan perempuan-perempuan Bugis, ataukah buka...

PULANG RANTAU DAN PERTANYAAN YANG SUDAH TIDAK RELEVAN LAGI DITANYAKAN DI ZAMAN SEKARANG -

Bila kamu pulang kampung lalu ada orang tanya ke kamu, "sudah nikah, blm?", "Kerja di mana?", "Punya rumah berapa?" "Anak sudah berapa?" Percayalah, bahwa orang yang bertanya semestinya tinggal dikisaran tahun 1980-an. Dan abadi di sana. Pertanyaan untuk orang merantau sekarang bukan itu, tapi "apa cerita perjalanan mu di rantau?", "Kuliner di sana gimana?", "Kalo dilihat-lihat potensi pekerjaan apa yang rasanya bagus dikembangkan di sana?", "Kehidupan sosial di sana menurutmu gimana?" Itu jauh lebih menyenangkan untuk didengarkan ketimbang cerita soal punya apa di daerah rantau dan pulang pura-pura jadi orang kaya dadakan, jadi senter clas, padahal hidup di rantau belum tentu bahagia, belum tentu juga mudah, ada tuntutan hidup dan gaya hidup yang seringkali terabaikan untuk kita cermati 😁😁 Kita semestinya sudah menanggalkan pertanyaan Materialisme, tentang punya apa, ke pengalaman sosial (social experien...

BUKA PUASA TERBAIK

Setelah mendengar kisah seorang teman, yang menceritakan bagaimana dia kehilangan orangtua. Entah mengapa, beta memutuskan untuk tidak ikutan bukber di manapun selain di rumah sendiri bersama keluarga. Beta tahu, ada banyak orang di luar sana yang kepengen buka puasa bersama sanak keluarga mereka---ada gema tawa di meja makan, ada obrolan yang hangat tercipta dan masih ada kedua orangtua di sana. Beta tahu, semua itu mahal harganya, Atau barangkali sangat mahal---di saat banyak orang di luar sana mulai kehilangan personil mereka satu persatu di meja makan. Beta juga sadar bahwa makan di meja makan di keluarga kelas menengah adalah  moments langka, karena seringkali meja makan jarang difungsikan untuk makan bersama keluarga. Dan satu-satunya moments makan dan duduk bersama di meja makan adalah saat bulan spesial semacam puasa ini. Bagi Beta, ini puasa terbaik. Beta sama sekali gak kehilangan satupun makan bersama untuk buka puasa di meja makan di rumah. Dan kalo seandainya ini puasa...