Langsung ke konten utama

LELAKI YANG MENDINGAN JADI MISKIN AJA DEH!

Kamu tahu kisah Salabah? Seorang lelaki ahli Ibadah, yang zakatnya ditolak Rasulullah? Syahdan, Salabah adalah seorang ahli ibadah yang sangat miskin. Dia hanya memiliki satu pakaian untuk ibadah. Salabah pernah meminta Rasulullah untuk mendo'akannya menjadi orang kaya, biar kemelaratan jauh darinya. Namun Rasulullah menolak, bagi Rasulullah, lebih bagus Salabah hidup melarat, karena kemelaratan itulah Salabah masih bisa beribadah kepada Allah. Salabah bergeming, berkali-kali Salabah mendesak Rasulullah untuk mendo'akannya. Dalam banyak pertemuan dan berpapasan, Salabah mendesak hal yang sama, hingga Rasulullah pun mendo'akannya.

Singkat cerita, Salabah kemudian mendapat sepasang kambing. Kambing-kambing tersebut ternyata mengubah nasib melarat Salabah menjadi lebih baik secara ekonomi. Kambing-kambing tersebut beranak pinang dan gemuk-gemuk. Salabah yang dikenal ahli Ibadah kemudian mulai jarang sholat. Hari-harinya tersibukkan dengan memelihara dan mengembalakan Kambing.

Hingga pada suatu hari, karena jumlah kambing-kambingnya sudah ratusan jumlahnya, dia dikenakan zakat. Zakat tersebut akan didistribusikan kepada si fakir yang lain. Namun, Salabah bergeming, baginya Zakat adalah semacam pajak yang mencoba mengambil keuntungan dari peternakan kambing miliknya. Salabah menolak Zakat.

Tak lama setelah kejadian itu, ayat Alquran pun turun. Tentang ancaman orang-orang yang enggan membayar zakat. Keluarga Salabah mengetahui bahwa ayat tersebut sedang menceritakan Salabah. Maka, datanglah mereka kepada Salabah, menceritakan ayat yang baru diwahyukan kepada nabi. Dengan bergegas, Salabah membawa kambing sebanyak yang dia mampu kehadapan Rasullullah. Namun, Rasullullah menolak Zakat tersebut. Dengan rasa sedih akhirnya Salabah pulang meninggalkan nabi.

Setelah Nabi wafat, Salabah yang telah memiliki kambing bahkan lebih dari dua gunung itu mendatangi Umar bin Khattab yang pada sewaktu tersebut mengantikan Rasulullah sebagai Khalifah. Khalifah Umar pun melakukan hal yang sama kepada Salabah, "Bagaimana mungkin aku akan mengambil zakat mu, sedangkan Rasullullah saja menolak Zakat mu?"

Begitulah, Lur! Seringkali seseorang bisa begitu ta'at dikala susah dan hidup melarat. Namun saat diuji sebagai orang yang beruang, kaya, mentereng, imannya goyah. Terperangkap dalam kamuflase dunia yang sangat. Kemiskinan itu ujian dan kekayaan dengan harta yang berlimpah pun ujian. Keduanya, baik harta yang berlimpah maupun harta yang sempit adalah sama-sama ujian. Yang kaya bersyukur atas kekayaannya dan mendistribusikan kepada yang lain. Sedangkan yang miskin, bersabar atas kemiskinannya.

Kaya bersyukur dan miskin bersabar - 

----------------

Penulis merupakan seorang penjual buku di Kafeinbuku, tulisannya bisa kamu baca di medium, kompasiana dan Pigurafilm

----------------



Komentar

Postingan populer dari blog ini

PEREMPUAN BUGIS DAN SEPIRING NASI KUNING-

Di kepala saya, saat menyebutkan nasi kuning, entah mengapa yang tergambar dibenak saya adalah seorang perempuan bugis dengan tangan halus menanak nasi. Entah mengapa pula, wajah seorang perempuan Bugis begitu melekat dibenak saya bila menyebut nasi kuning. Tampaknya, imaji perempuan yang halus wajahnya, yang putih kulitnya, yang merah merekah bibirnya dan hitam rambutnya-diikat ke belakang telah melekat dibenak saya. Semenjak kecil, hanya nasi kuning perempuan Bugislah yang seolah melekat seperti halnya prangko yang menempel di selembar surat. Saat membuat nasi kuning, mereka seolah memiliki resep rahasia. Di balik lembut tangan halus perempuan Bugis, terdapat rahasia masakan. Bila orang Padang membanggakan Barandang Bundonyo, dan menjadi tumpuhan kerinduaan dan kenangan bila di rantau. Maka, yang di kenang dari perempuan Bugis adalah sepiring nasi kuning. Tak begitu jelas, apakah yang memperkenalkan nasi yang berwarna kuning ke Maluku merupakan perempuan-perempuan Bugis, ataukah buka...

PULANG RANTAU DAN PERTANYAAN YANG SUDAH TIDAK RELEVAN LAGI DITANYAKAN DI ZAMAN SEKARANG -

Bila kamu pulang kampung lalu ada orang tanya ke kamu, "sudah nikah, blm?", "Kerja di mana?", "Punya rumah berapa?" "Anak sudah berapa?" Percayalah, bahwa orang yang bertanya semestinya tinggal dikisaran tahun 1980-an. Dan abadi di sana. Pertanyaan untuk orang merantau sekarang bukan itu, tapi "apa cerita perjalanan mu di rantau?", "Kuliner di sana gimana?", "Kalo dilihat-lihat potensi pekerjaan apa yang rasanya bagus dikembangkan di sana?", "Kehidupan sosial di sana menurutmu gimana?" Itu jauh lebih menyenangkan untuk didengarkan ketimbang cerita soal punya apa di daerah rantau dan pulang pura-pura jadi orang kaya dadakan, jadi senter clas, padahal hidup di rantau belum tentu bahagia, belum tentu juga mudah, ada tuntutan hidup dan gaya hidup yang seringkali terabaikan untuk kita cermati 😁😁 Kita semestinya sudah menanggalkan pertanyaan Materialisme, tentang punya apa, ke pengalaman sosial (social experien...

MINDSET KERJA, UANG DAN POSISI KITA

Kamu bekerja pagi sampai sore dan di akhir bulan kamu akan mendapat slip gaji, itu namanya earned income. Kamu bekerja sampingan bahkan saat kamu lagi jalan-jalan dengan bermodalkan handphone, lewat jualan online dan dapat uang dari aktivitas tersebut, itu namanya profit income. Kamu jalan-jalan lalu punya sedikit waktu untuk nulis dan kirim ke media online, ngeyoutube, main di Instagram, tiktok, dan dapat upah dari karya kreatif itu namanya Royalty income. Jadi, seringkali orang suka mengira kalo yang namanya kerja itu cuma dapat gaji bulanan (Earned income) padahal seringkali ada yang pendapatnya dari profit income atau bahkan royalty income 😊😊 Guys, jadi berhentilah hanya berpikir kalo yang namanya kerja itu cuma earned income. Ada banyak kerja bahkan yang belum dibahas, semisal upah jadi profesi spesifik kita misal jadi pembicara, bintang tamu, peneliti dadakan, punya kos-kosan, Franchise dan semacamnya. Ruang lingkup untuk dapatkan uang itu banyak banget. Cuma di mindset masyara...